Social Icons

SELAMAT DATANG TEMAN-TEMAN DI BLOG KAMI, SEMOGA BERMANFAAT BAGI ANDA SEMUA. TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI WEBSITE.

Featured Posts

Kamis, 03 Maret 2016

Mengapa Gereja Katolik Menentang ‘Perkawinan’ Homoseksual?

By Stefanus Tay & Ingrid Tay 

Gereja Katolik mengajarkan bahwa perkawinan bukan merupakan hubungan ‘apa saja’ antara manusia. Perkawinan ditentukan oleh Allah Sang Pencipta dengan kodratnya tersendiri, dengan sifat-sifat dan maksudnya yang hakiki (lih. Gaudium et Spes 48). Maka perkawinan hanya dapat diadakan antara seorang pria dan seorang wanita, yang dengan saling memberikan diri yang sepantasnya dan eksklusif hanya antara mereka berdua, mengarah kepada persekutuan pribadi mereka. Dengan cara ini, mereka saling menyempurnakan dalam rangka bekerjasama dengan Tuhan di dalam penciptaan dan pengasuhan (upbringing) kehidupan-kehidupan manusia yang baru.

Berikut ini adalah ringkasan dari dokumen yang dikeluarkan oleh Kongrgasi Ajaran Iman tentang beberapa pertimbangan mengapa Gereja tidak menyetujui pengakuan legal/ hukum terhadap ‘perkawinan’ homoseksual (homosexual union), untuk teks selengkapnya, klik di sini:

1. Perkawinan ditentukan oleh Allah dengan kodrat, sifat dan esensi tertentu

Gereja Katolik mengajarkan bahwa perkawinan bukanlah hanya terbatas pada hubungan antara manusia, namun hubungan yang ditentukan oleh Sang Pencipta dengan kodrat tertentu, dengan sifat esensi dan maksud yang tertentu. (#2)

Perkawinan dimaksudkan Allah agar pasangan manusia itu -yaitu antara seorang laki-laki dan seorang perempuan- mengambil bagian dalam karya penciptaan Tuhan dan pendidikan/pengasuhan kehidupan baru. (#2)

2. Tiga elemen dasar perkawinan menurut rencana Tuhan

Tiga prinsip dasar tentang rencana Allah untuk perkawinan adalah (#3)

1. Manusia sebagai gambaran Allah, diciptakan “laki-laki dan perempuan” (Kej 1:27).

Pria dan wanita adalah sama sebagai pribadi dan saling melengkapi sebagai laki-laki dan perempuan. Seksualitas adalah sesuatu yang tidak hanya berhubungan dengan hal fisik dan biologi, tetapi telah diangkat ke tingkat ‘pribadi’, di mana kodrat dan roh disatukan.

2. Perkawinan ditetapkan oleh Tuhan sebagai bentuk kehidupan di mana sebuah persekutuan pribadi dinyatakan dengan melibatkan kemampuan seksual.

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kej 2:24)

3. Tuhan telah menghendaki untuk memberikan kepada persatuan antara pria dan wanita sebuah partisipasi/ kerjasama yang istimewa di dalam karya penciptaan-Nya.

Oleh karena itu Allah memberkati pria dan wanita dengan perkataan, “Beranakcuculah dan bertambah banyak” (Kej 1:28). Dengan demikian, di dalam rencana Tuhan, kodrat perkawinan adalah saling melengkapi dalam hal seksual dan kemampuan berkembang biak. Persatuan homoseksual tidak dapat memberikan kontribusi yang layak terhadap prokreasi dan kelanjutan generasi umat manusia (survival of the human race).

Selanjutnya, persatuan perkawinan antara pria dan wanita telah diangkat oleh Kristus ke martabat sakramen. Gereja mengajarkan bahwa perkawinan Kristiani adalah tanda yang nyata akan perjanjian Kristus dan Gereja (lih. Ef 5:32). Makna Kristiani tentang perkawinan meneguhkan dan memperkuat persatuan perkawinan antara pria dan wanita.

3.Perbuatan homoseksual adalah perbuatan yang menyimpang

Kitab Suci mengecam perbuatan homoseksual (lih. Rm 1:24-27, 1Kor 6:10; 1Tim 1:10), karena secara mendasar perbuatan itu menyimpang. Ajaran Kitab Suci ini tentu tidak memperbolehkan kita untuk menyimpulkan bahwa mereka yang mengalami kecenderungan homoseksual ini bertanggungjawab untuk keadaan yang khusus ini, tetapi ajaran ini menyatakan bahwa tindakan-tindakan homoseksual secara mendasar menyimpang.” (CDF, Deklarasi, Persona Humana (29 Desember, 1975), 8). Ketetapan moral ini ditemukan di banyak tulisan Kristen di abad-abad awal[1] dan secara mutlak disetujui dan diterima oleh Tradisi Katolik. Perkawinan adalah kudus, sedangkan tindakan homoseksual menentang kodrat hukum moral. Tindakan-tindakan homoseksual “melawan hukum kodrat, karena kelanjutan kehidupan tidak mungkin terjadi waktu persetubuhan. Perbuatan itu tidak berasal dari satu kebutuhan benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual. Bagaimanapun perbuatan itu tidak dapat dibenarkan.” (Katekismus Gereja Katolik 2357).

Namun demikian, menurut ajaran Gereja, mereka yang mempunyai kecenderungan homoseksual harus diterima dengan hormat, dengan belas kasih dan dengan sensitivitas. Setiap tanda diskriminasi yang tidak adil yang dikarenakan oleh kecenderungan tersebut harus dihindari. “Mereka harus dilayani dengan hormat, dengan kasih sayang dan dengan biiaksana. Orang jangan memojokkan mereka dengan salah satu cara yang tidak adil.” (KGK 2358). Mereka, seperti halnya semua umat beriman, dipanggil untuk hidup murni, namun kecenderungan homoseksual tetaplah menyimpang (KGK 2358) dan perbuatan homoseksual adalah dosa melawan kemurnian (KGK 2396). (#4) Dengan demikian, tidak ada dasar untuk mempertimbangkan persatuan homoseksual sebagai sesuatu yang mirip ataupun bahkan sedikit menyerupai gambaran rencana Tuhan untuk perkawinan dan keluarga.

4. Sikap Gereja: menolak perbuatan homoseksual, namun menolak diskriminasi terhadap kaum homoseksual

Sikap yang diajarkan Gereja adalah: menolak untuk menyetujui perbuatan-perbuatan homoseksual, namun juga menolak diskriminasi yang tidak adil terhadap mereka yang mempunyai kecenderungan homoseksual. (#5)

Gereja mengajarkan bahwa penghormatan kepada orang- orang yang homoseksual tidak dapat mengarah kepada menyetujui tindakan homoseksual atau kepada pengakuan persatuan homoseksual (homosexual union) secara hukum. Kesejahteraan umum mensyaratkan bahwa hukum mengenali, mendukung dan melindungi perkawinan sebagai dasar keluarga, unit terkecil dalam masyarakat. Pengakuan secara hukum akan persatuan homoseksual atau penempatan hal itu sejajar dengan perkawinan akan berarti tidak saja sebagai pengakuan akan tindakan/pola tingkah laku yang menyimpang tersebut, tetapi juga menghalangi nilai- nilai dasar yang menjadi warisan bersama umat manusia. Gereja tidak dapat gagal untuk mempertahankan nilai- nilai ini, demi kebaikan para pria dan wanita dan demi kebaikan masyarakat itu sendiri.

Di area di mana ‘perkawinan’ homoseksual dilegalkan, maka oposisi yang jelas merupakan tugas semua umat Katolik. Seorang Katolik harus menghindari kerjasama formal untuk pelaksanaan/ penerapan hukum itu, sedapat mungkin, juga menghindari kerjasama secara material, di tingkat penerapannya.

5. Hukum yang melegalkan ‘perkawinan’ homoseksual tidak sejalan dengan akal budi yang benar

Hukum yang melegalkan ‘perkawinan’ homoseksual tidak sejalan dengan akal budi yang benar/ adil, sebab hukum itu memberi jaminan hukum terhadap hubungan sesama jenis seperti kepada pria dan wanita yang menikah, dan dengan demikian mengaburkan nilai-nilai moral dasar tertentu dan memerosotkan makna perkawinan. (#6)

Kesatuan homoseksual kekurangan dalam hal biologis dan anthropologis bagi perkawinan, yang menjadi dasar, diberikannya jaminan pengakuan legal/ hukum. Sebab ‘perkawinan’ sesama jenis tidak dapat memberikan kontribusi yang selayaknya bagi pro-kreasi dansurvival suatu suku bangsa manusia, sebab tidak ada kemungkinan meneruskan kehidupan baru. (#7)

Pengalaman menunjukkan dari ‘perkawinan’ ini, terjadi hambatan bagi perkembangan anak-anak yang ada dalam asuhan mereka, karena mereka kekurangan figur kebapaan atau figur keibuan. Memperbolehkan mereka mengadopsi anak-anak, sesungguhnya merupakan tindakan yang melukai anak-anak tersebut, sebab menjadi tidak kondusif bagi perkembangan anak-anak tersebut secara utuh. (#7)

6. Konsekuensi pengakuan hukum perkawinan homoseksual dapat berpengaruh negatif terhadap kepentingan bersama

Konsekuensi dari pengakuan hukum terhadap perkawinan homoseksual adalah perubahan definisi perkawinan yang dapat berpengaruh negatif terhadap kepentingan bersama, terhadap perkembangan kemasyarakatan yang layak. (#8)

7. Pengakuan hukum perkawinan homoseksual tidak sama dengan pengakuan terhadap hak-hak sebagai warganegara

Tidaklah valid argumen yang mengatakan pengakuan hukum dari ‘perkawinan’ homoseksual adalah agar mereka diakui haknya sebagai warganegara. Sebab kenyataannya, mereka akan tetap dapat menggunakan hak-hak mereka menurut hukum sebagaimana para warganegara lainnya atas dasar otonomi pribadi. (#9)

8.  Semua umat Katolik berkewajiban menentang pengakuan hukum terhadap perkawinan sesama jenis

Semua umat Katolik berkewajiban untuk menentang pengakuan legal/ hukum terhadap ‘perkawinan’ sesama jenis (homosexual union), dan tokoh politik Katolik berkewajiban untuk melakukannya dengan cara yang khusus sesuai dengan tanggungjawab mereka sebagai seorang tokoh politik. (#10)

9. Penghormatan kepada kaum homoseksual tidak dapat mengarah kepada persetujuan terhadap prilaku homoseksual ataupun pengakuan hukum terhadap perkawinan homoseksual

Gereja mengajarkan bahwa penghormatan kepada orang-orang yang mempunyai kecenderungan homoseksual tidak dapat mengarah kepada persetujuan terhadap prilaku homoseksual ataupun pengakuan legal/ hukum terhadap ‘perkawinan’ sesama jenis (homosexual union). Pengakuan hukum terhadap ‘perkawinan’ homoseksual atau menempatkan hubungan tersebut setingkat dengan perkawinan [heteroseksual], berarti tidak saja persetujuan terhadap prilaku yang menyimpang, dengan konsekuensi menjadikannya model bagi masyarakat sekarang, tetapi juga akan mengaburkan nilai-nilai dasar yang menjadi warisan bersama umat manusia. Gereja tidak dapat gagal untuk mempertahankan nilai-nilai ini, demi kebaikan para laki-laki maupun perempuan, dan demi kebaikan masyarakat itu sendiri. (#11)

Sumber:
Diterjemahkan dan disarikan dari dokumen CDF (Congregation for the Doctrine of the Faith, Considerations regarding Proposals to Give Legal Recognition to Unions between Homosexual Persons). Dokumen tersebut disetujui oleh Paus Yohanes Paulus II, pada audiensi tanggal 28 Maret 2003.

readmore »»  

Kamis, 25 Februari 2016

Makan Bubur Kanton di Setia Budi

Kekasihku sedang sakit, maunya lagi pengen makan bubur. Dia rekomendasikan makan bubur Kanton di Jalan Dr. Setia Budi. Rasanya lumayan enak untuk orang yang lagi sakit. Buburnya mengandung babi, tentu karena bubur khas Kanton ini gak akan lengkap tanpa babi. Dan soal rasa, jangan tanya lagi. Campur merica, kecap dan lain-lain. Wajib dah datang ke sini. Dan untuk kekasihku, semoga cepat sembuh ya sayang. I love u...

readmore »»  

Ngeblog itu Inspirasi

Bagi saya nge-blog itu bukan soal gampang. Apalagi memikirkan apa yang ingin kita tuliskan, kadang blank ketika sudah berada di depan laptop. Sama seperti kalau kita lagi pegang gitar, lalu sudah duduk dan pengen nyanyi, jadi bingung mau nyanyi lagu apa? 
Sejarahnya ngeblog dulu karena hobby. Pertama saya suka membuat komik. Kemudian saya suka membuat cerita pendek. Lalu saya juga senang membuat puisi. Akhirnya sekarang sekian lama berjalan waktu berguna juga hobby tulis menulis. Tulisan saya diterima di berbagai majalah seperti majalah Duta, majalah Hidup, majalah KKI-KWI dan lain-lain. Blog saya juga termasuk banyak. Ada blog pribadi dan ada juga blog instansi. Sudah beberapa instansi saya buatkan blog dan website. Salah satunya OFS dan Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS). Hal itu semata mencurahkan hobby untuk menolong sesama. Bukan untuk ajang gaya-gayaan saja. Apalagi soal isi tulisan, bukan hal main-main juga untuk dipublikasikan. Maraknya informasi yang salah menyebabkan masyarakat salah kaprah, hoax dipercayai dan hal yang faktual tidak lagi menjadi menarik. Di era multimedia begini, memang ngeblog dengan gaya multi media sedang lagi populer. Tidak jarang, anak-anak muda banyak memilih multi media, selain untuk promosi, curahan kreativitas, setidaknya bisa menambah uang saku anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah. Nge-Blog itu asyik kalau dibuat hobby, jika dibiasakan dapat memberikan penghasilan. Mari, banyak-banyaklah ngeblog! Sekarang sudah masuk era Informasi, makin kamu update, makin berjayalah dirimu. Kalau kudet alias kurang update, habislah kita. 

OK, sekian inspirasi malam. Semoga bermanfaat. Tuhan memberkati. Kalau sempat main-mainlah di blog dan web yang baru saya bikin di http://www.kfs.or.id dan http://www.fransescoofs.blogspot.com
readmore »»  

Rabu, 20 Mei 2015

Menjadi Diri Sendiri Saat Dikritik

Critical
Kebanyakan anak muda menjadi ciut ketika mendapatkan kritikan pada dirinya. Sebenarnya itu tidak terlalu banyak mempengaruhi hidup mereka. Sebab kritikan adalah bagian dari perbaikan hidup. Jika kita mampu menerimanya dan merubah sikap kita, saya pikir itu adalah hal yang baik. Mengapa demikian? Karena tidak semua orang mampu menerima kritikan. Ada tipe orang yang dengan tersenyum menerima kritikan 100%. Ada orang yang juga tersenyum namun dalam hati menggerutu. Ada juga orang yang benar-benar menolak kritikan walaupun ada juga yang berpikir lebih jauh setelah dikritik. Semua manusia begitu unik, memiliki respon masing-masing ketika menerima kritikan.

Ada pepatah kuno yang mengatakan, jadilah dirimu sendiri. Memang, terkadang cara ini membuat kita mempertahankan eksistensi diri kita. Meskipun berkali-kali mengalami kritikan dari orang lain. Tetaplah, alasan menjadi diri sendiri merupakan tameng paling kuat untuk menepis sedikit serang kritikan. Melangkah lebih jauh, sebenarnya kritikan adalah penyempurnaan dari diri kita sendiri. Meskipun memiliki kesan agak memaksa diri kita untuk berubah. Akan tetapi, anugerah dari Tuhan tak bisa kita abaikan juga. Kita memiliki hak untuk menerima apa yang baik dan apa yang buruk. Dan kita juga bisa menganalisa apa yang dikatakan orang-orang kepada kita melalui hati nurani dan akal budi kita sendiri. Namun tidak menutup diri dari inputan dari orang-orang yang mungkin juga ingin membuat hidup kita jauh lebih baik.

Namun, semua itu kembali kepada pribadi diri sendiri. Kita tak perlu banyak merubah pribadi kita. Mungkin kritis secara fisik boleh kita terima jika membuat penampilan fisik menjadi lebih baik. Akan tetapi jika kita dipaksa untuk merubah yang sesungguhnya baik. Contoh, karena terlalu sering tersenyum, ada beberapa yang mengatakan bahwa kita terkesan seperti orang gila. Padahal lumrahnya, cemberut malahan memberikan kesan tidak baik. Nah, kita juga harus pandai-pandai menilai apa yang menjadi masukan bagi kita. Apakah itu hal yang bermanfaat, ataukah hanya kritikan pedas yang tidak membangun. Tetap jadi sendiri bersama kritikan pedas, walau sakit itu membuatmu lebih baik. 
readmore »»  

Kamis, 17 Juli 2014

Kepala Sekolah Menugaskan Operator Sekolah dan Diberikan SK.



Operator sekolah sebagai pelaksana penjaringan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) di tingkat sekolah akan mendapatkan surat tugas atau Surat Keputusan (SK) yang berlaku selama 1 tahun. Kepala sekolah sebagai penanggung jawab Dapodik sekolahnya diminta menunjuk salah seorang pendidik atau tenaga kependidikan di sekolahnya sebagai operator sekolah. Hal ini sesuai dengan surat edaran Dirjen Dikdas Kemdikbud tentang persiapan penjaringan data tahun 2014/2015.

Disebutkan pula dalam surat edaran yang ditujukan untuk Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah tersebut, bahwa pembiayan yang ditimbulkan dari pendataan Dapodik dapat diambilkan dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sesuai petunjuk teknis BOS 2014. Penjaringan data untuk semseter 1 tahun pelajran 2014/2015 akan dimulai pada 1 Agustus 2014 mendatang dengan menggunakan Aplikasi Dapodikdas versi 3.00. 

Sistem Dapodik menjaring tiga entitas data, yaitu data peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan (PTK), dan satuan pendidikan (sekolah). Penjaringan data ini dilakukan secara online melalui sebuah aplikasi. Data tersebut digunakan sebagai dasar perencanaan dalam pelaksanaan program yang bersifat transaksional dengan daerah maupun langsung dengan sekolah, seperti: penyaluran dana BOS, rehab, tunjangan guru, dan subsidi siswa miskin.

Kepala Sekolah bertanggung jawab terhadap kelengkapan dan kebenaran data yang dikirim. Secara teknis, Kepala Sekolah mengumpulkan instrumen pendataan terkait siswa, guru, dan sekolah. Data tersebut diserahkan kepada operator sekolah dimasukkan dan dikirim ke server pusat sistem Dapodik. Umumnya sekolah yang perhatian, operator sekolah bekerja dengan tenang. Semua variabel datanya dilengkap sehingga dana BOS, tunjangan guru, dan lain-lain berjalan lancar. 

Sumber:http://www.sekolahdasar.net/2014/07/operator-sekolah-mendapat-sk-dan.html#ixzz37iy7CX9s
readmore »»  

Rekap Nilai Mahasiswa Widya Dharma Pontianak

logo


Tukar Link

Pastekan kode tersebut ke Bagian HTML Blog Anda. Indahnya berbagi.

Kata Mereka

Widget edited by Fransesco A.R